Archive for September, 2008

30
Sep

Ticking Birthday

It’s almost here. The day I dreaded is almost here.

My empty jar has not filled yet, a symphony of unfulfilled dreams that I dreamt for 10 long years. Since I was merely a soul I’m making a pledge to myself that I will live in NYC in my 25th birthday. And that day is just 10 days left and I’m standing here like a big loser in the door of disappointment.

New York City, a dream of a young boy somewhere in another part of the world without having any knowledge of the Big Apple himself. I never been there, doesn’t know anyone there but dare to take my dream as far as my mind could take me. People have told me so many stories relating to that particular city, where the people never sleeps, where the traffic is making your head explode in anger, where money is the most thing that matter and needed there, where your blood and sweat combine together to just live in that city.


All of my life I’m trying to make it simple, something I could hold on and running to. In my life there are only 3 places that most matter to me: NYC, Europe and Africa. I want to work my ass off in NYC, when my ambition fighting for place between my ego. As time goes by, youth no longer in my dictionary I dare to cross the land towards Europe. Visit Greece, Milan, Paris, Venice and Berlin just to enjoy my work and continue maintaining my business relation everywhere.


And the last resort of my tired old soul, Africa is my sanctuary. Where earth still untouched by the thickness of asphalt, where trees and mountains never changes into building and parking lot. I could hear the animals’ passes by the gate of my humble residence in the land of Africa. Goes fishing or croc hunting by the weekend is just a bit of paradise for me. In there I will surrender my heart beat and died peacefully whenever my time comes, coz I’m ready.


But before my mind wonder much further, I need to make a ground for my first place: NYC which I haven’t fulfilled yet. Such a disappointment for me, no one to blame but myself. I have work in every way to get myself to that city and nothing succeeded. Sometimes it just became a fairytale in a mist I could never have. Thus, I never lose hope and always believe in myself. Time might change, plan could alter, but the process is always as important as the result.

they follow me to my bed

they follow me to my sleep

they follow me to my grave

and if you let me die in peace

i will never haunt you away

my shadow will

Tika - Saddest Farewell

18
Sep

3 Tipe Homoseksual & Lesbian

Homoseksual dapat didefinisikan sebagai suatu keinginan membina hubungan romantis atau hasrat seksual dengan sesama jenis, jika sesama pria dinamakan gay sedangkan sesama wanita sebut saja lesbian.


Sebenarnya pengertian homoseksual itu meliputi 3 dimensi yaitu orientasi seksualnya yang ke sesama jenis, perilaku seksual dan juga tentang identitas seksualitas diri. Jadi masalah homoseksual bukan semata perkara hubungan seksual dengan sesama jenis semata.


Hal inilah yang seringkali membuat kita merasa najis dengan kaum homoseksual, karena berpikiran bahwa di dalam otak mereka hanya berisikan semata nafsu birahi dengan sesama jenis saja, padahal homoseksualitas itu mencangkup identitas diri sekaligus perilaku mereka juga.


Itu semua bukan dapatan semata dari faktor lingkungan, melainkan faktor genetik-lah yang membuat perkara ini menjadi sangat sulit.



Memang ada jenis homoseksual yang terjadi karena dipicu faktor lingkungan semata, misalnya suasana dalam penjara yang merupakan populasi homogen serta di biara seperti skandal sodomi dalam gereja di USA. Homoseksual semacam ini sesungguhnya jauh lebih muda ditangani karena hal tersebut tercangkup dalam segi perilaku semata, sementara segi identitas diri relatif masih normal (homoseksual situasional).



Dalam ilmu psikiatri, homoseksual yang dianggap sebagai suatu bentuk gangguan jiwa hanyalah homoseksual egodistonik. Homoseksual jenis ini bercirikan pribadi tersebut yang merasa tidak nyaman dengan dirinya dan tidak dapat menerima kenyataan orientasi seksualnya yang abnormal tersebut.


Akibatnya pribadi semacam ini dihantui kecemasan dan konflik psikis baik internal maupun eksternal dirinya. Homoseksual distonik memberikan suatu distress (ketegangan psikis) dan disability (hendaya, gangguan produktivitas sosial) sehingga digolongkan sebagai suatu bentuk gangguan jiwa.



Pribadi homoseksual tipe ini seringkali dekat depresi berat, akibatnya seringkali mereka mengucilkan diri dari pergaulan, pendiam, mudah marah dan dendam, aktivitas kuliah terbengkalai dan sebagainya. Homoseksual jenis inilah yang dicap sakit mentalnya dan memang harus diterapi. Di negara dengan budaya dan agama yang kuat seperti di negara kita, celakanya homoseksual jenis inilah yang mendominasi.



Kaum homoseksual di tanah air sulit untuk menerima kenyataan dirinya sebagai kaum abnormal seperti demikian, maka mereka sering menyembunyikan orientasi yang dicap salah dalam masyarakat tersebut. Represi semacam demikian akan berakibat gejolak negatif dalam dirinya sehingga tampil ke permukaan sebagai stress,depresi dan gangguan dalam relasi sosial. Mereka sering gagal dalam menemukan identitas dirinya ditengah ancaman cambuk agama dan budaya yang sedemikian kuat.



Kaum homoseksual lain justru dapat menerima apa yang ada di dirinya sebagai suatu bentuk hal yang hakiki. Pribadi semacam ini berani coming out atau menyatakan identitas dirinya yang sesungguhnya sehingga konflik internal dalam dirinya lepas. Kaum homoseksual ini dinamakan egosintonik, tidak dikatakan sebagai kelompok gangguan jiwa karena mereka tidak mengalami distress amupun disability dalam kehidupan mereka. Bahkan mereka yang sukses dengan coming out seperti demikian seringkali lebih produktif dan sukses dalam profesi mereka seperti misalnya perancang baju, penata rias dan rambut,dll.



Menjadi seorang dengan orientasi seksual ke sesama jenis sesungguhnya bukan semata pilihan pribadi homoseksual, melainkan itu merupakan kesalahan genetik. Kecenderungan itu sesungguhnya sudah ada sejak lahir namun baru naik ke permukaan setelah seorang individu masuk ke dalam fase sosial dalam tahap perkembangannya.



Bahkan seorang Sigmund Freud berani mengatakan bahwa pada setiap diri kita sebenarnya ada bakat untuk homoseksual, dan proses interaksi sosial dalam perkembangan selanjutnyalah yang menyebabkan bakat itu dapat muncul atau tertahankan.



Permasalahan jiwa pada pribadi homoseksual sebenarnya jauh lebih banyak terkait faktor eksternal dirinya atau berupa tekanan dari masyarakat. Mereka yang tidak berani coming out ke masyarakat akan dihantui konflik identitas diri seumur hidupnya sedangakn mereka yang memberanikan coming out tetap menghadapi resiko dicibir atau malah dikucilkan masyarakat.Jadi sebenarnya homoseksual itu lebih berupa ‘penyakit masyarakat’ ketimbang penyakit jiwa karena memang yang menimbulkan penyakit itu adalah perlakuan dari masyarakat sendiri.

Kaum homoseksual di Indonesia jumlahnya tidak sedikit, mereka ada di sekitar kita namun seringkali kita memang tidak tahu karena umumnya mereka termasuk yang memilih untuk non coming out karena takut akan ancaman sosial-agama dari masyarakat.



Sebagai catatan dari suatu survey dari Yayasan Priangan beberapa tahun yang lalu menyebutkan bahwa ada 21% pelajar SMP dan 35% SMU yang pernah terlibat dalam perilaku homoseksual. Data lain menyebutkan kaum homoseksual di tanah air memiliki sekitar 221 tempat pertemuan di 53 kota kota di Indonesia. Hal di atas menggambarkan bahwa jumlah kaum homoseksual tidaklah sedikit.



Bagaimanapun kita sebagai pribadi yang terpelajar hendaknya mau mengerti latar belakang kaum homoseksual, tidak semata merasa jijik atau malah menolak mereka. Tentunya Anda tidak bisa mengucilkan teman Anda yang berambut ikal karena memang gen nya membawa sifat ikal seperti itu bukan?



Begitu pula homoseksual, bukan kemauan mereka untuk menjadi homoseksual, namun bedanya gen orientasi seksual semacam itu mencangkup pula segi perilaku sosial bukan semata penampilan fisik seperti halnya rambut ikal. Dukungan sosial justru sangat dibutuhkan oleh kaum homoseksual, dengan demikian mereka dapat menemukan dan mengaktualisasikan identitas dirinya serta terbebas dari distress, dengan demikian mereka dapat tetap produktif dalam masyarakat.



Homoseksual harus dibedakan dengan gangguan transeksual (banci). Transeksual masih termasuk dalam gangguan jiwa jenis preferensi seksual. Bedanya yang mudah diantara keduanya adalah bahwa kaum homoseksual tidak pernah ingin mengganti jenis kelaminnya (misal dengan operasi plastik), tidak pernah berhasrat mengenakan pakaian lawan jenis (melainkan kebanyakan gay berpenampilan macho dan necis).



Selain itu kaum transeksual terutama memiliki dorongan untuk menolak jenis kelaminnya, dan mengingini jenis kelamin lawan jenisnya. Jadi pengertian transeksual lebih ke arah penolakan akan identitas dirinya sebagai seorang pria atau wanita, bukan menekankan kepada orientasi seksual (keinginan dengan siapa berhubungan seksual / membina relasi romantis).


Oleh: Achmad Ridwan Sudirdjo C.Ht


07
Sep

Beternak Babi di Negeri Sendiri

Saya seorang warga sebuah negara yang permai, dimana gedung megah tumbuh subur bahkan dari bibit busuk dalam kubangan lumpur. Saya hanya warga sebuah negara yang cinta damai katanya, dimana pukulan merupakan cara berciuman dan makian kotor cara menunjukkan pelukan dalam balutan putih diatas tanah negara saya.

Sawah berganti parkiran, kerbau berganti mesin berjalan, ketika malam para kunang pun mati dalam lampu metropolitan berkilauan sejati. Namun satu hal yang tidak terganti dalam modernisasi di masa kini, kami masih punya sebuah perternakan sendiri yang dalamnya terdapat banyak babi.

Para babi itu ada yang gemuk, ada yang kurus, ada yang muda ada yang tua. Mereka pintar, mereka para intelejensia dengan bukti banyaknya gelar. Tapi mereka rakus bukan main, berebut makanan satu dengan yang lain. Kelompok gemuk, kelompok kurus, kelompok muda begitu pula dengan yang tua, semua sama rakusnya.

Jam makan mereka biasanya bertepatan dengan jam kami pergi bekerja, melebur tenaga dalam kantor delapan jam lamanya. Para babi itu terus dan terus makan, tiada habisnya hingga kami pun kewalahan. Kembali makan pada jam kepulangan kami ke rumah, diperempatan lampu merah, di belokan di berbagai arah, makan tanpa rasa bersalah.

Negara saya ini tentu saja memberi mereka makan sesuai jatah, tapi babi-babi itu tidak pernah puas inilah awal sebuah masalah. Dengan baju negara yang kami berikan, dengan kendaraan yang kami sumbangkan, semua babi itu hanya memikirkan caranya mendapat lebih makanan.

Saya dan warga negara lain sering ditipu oleh para babi itu, dengan kepicikan dan kekuasaan mereka menindas kami tanpa ragu. Meminta makan dengan berbagai alasan, mencari salah dari setiap warga yang lewat berjalan. “Damai saja”, kata seorang babi gemuk, “titip sidang saja”, kata babi lain yang lebih muda.

Saya warga sebuah negara yang beternak babi, semakin banyak jumlah mereka kini. Kadang bersembunyi di perempatan lampu merah, kadang bersembunyi dibalik tikungan jalanan megah, bersiap makan dari kami yang ragu bersalah. Apa daya para babi itu semakin gemuk saja yang dipelihara oleh ilusi sang gembala.