07
Sep
08

Beternak Babi di Negeri Sendiri

Saya seorang warga sebuah negara yang permai, dimana gedung megah tumbuh subur bahkan dari bibit busuk dalam kubangan lumpur. Saya hanya warga sebuah negara yang cinta damai katanya, dimana pukulan merupakan cara berciuman dan makian kotor cara menunjukkan pelukan dalam balutan putih diatas tanah negara saya.

Sawah berganti parkiran, kerbau berganti mesin berjalan, ketika malam para kunang pun mati dalam lampu metropolitan berkilauan sejati. Namun satu hal yang tidak terganti dalam modernisasi di masa kini, kami masih punya sebuah perternakan sendiri yang dalamnya terdapat banyak babi.

Para babi itu ada yang gemuk, ada yang kurus, ada yang muda ada yang tua. Mereka pintar, mereka para intelejensia dengan bukti banyaknya gelar. Tapi mereka rakus bukan main, berebut makanan satu dengan yang lain. Kelompok gemuk, kelompok kurus, kelompok muda begitu pula dengan yang tua, semua sama rakusnya.

Jam makan mereka biasanya bertepatan dengan jam kami pergi bekerja, melebur tenaga dalam kantor delapan jam lamanya. Para babi itu terus dan terus makan, tiada habisnya hingga kami pun kewalahan. Kembali makan pada jam kepulangan kami ke rumah, diperempatan lampu merah, di belokan di berbagai arah, makan tanpa rasa bersalah.

Negara saya ini tentu saja memberi mereka makan sesuai jatah, tapi babi-babi itu tidak pernah puas inilah awal sebuah masalah. Dengan baju negara yang kami berikan, dengan kendaraan yang kami sumbangkan, semua babi itu hanya memikirkan caranya mendapat lebih makanan.

Saya dan warga negara lain sering ditipu oleh para babi itu, dengan kepicikan dan kekuasaan mereka menindas kami tanpa ragu. Meminta makan dengan berbagai alasan, mencari salah dari setiap warga yang lewat berjalan. “Damai saja”, kata seorang babi gemuk, “titip sidang saja”, kata babi lain yang lebih muda.

Saya warga sebuah negara yang beternak babi, semakin banyak jumlah mereka kini. Kadang bersembunyi di perempatan lampu merah, kadang bersembunyi dibalik tikungan jalanan megah, bersiap makan dari kami yang ragu bersalah. Apa daya para babi itu semakin gemuk saja yang dipelihara oleh ilusi sang gembala.




1 Response to “Beternak Babi di Negeri Sendiri”


  1. 1    bitterness.junkie September 8, 2008 at 8:50 am

    Beugh. Hahaha. Tumben sepi komen,yank ?.. Mungkin krn yang dibahas itu…”babi”.. Hahaha.

    Tapi,saya suka cara *kamu* nyindir disinih…
    Udah bisa nulis di kompas nih..
    Haha.

Leave a Reply