Bagian I: Kelurahan Diatas
Telapak Tangan
Pagi itu merupakan pagi seperti
pagi pada sebelumnya, membosankan namun penuh semangat, terik panas namun sejuk
dengan angin menerpa saya diatas motor ini. Rencana demi rencana mulai bergulir
didalam kepala, apa yang terlupa, semoga tidak ada.
Awalan rencana adalah ke
kelurahan setempat, salah satu tempat yang lumayan saya benci. Bau birokrasi,
uang suapan yang berenang kesana kemari, cih, muka mereka yang seperti tai.
Apa?? Berani memaki? Bikin saja blog sendiri!!
Dasar alasan saya mendatangi
salah satu tempat yang menurut saya busuk dan tak pantas menjadi wakil dari
nurani rakyat [red: warga] adalah karena saya lagi apes butuh surat keterangan
warga untuk keperluan bank. Nah disitu saya ditantang, kesabaran dan diperas
juga uang.
Setelah sekian lama menunggu,
saya mendatangi seorang dibalik meja kayu yang dari wajahnya siap dirayu namun
pastinya saya tak mau. “Maaf pak, saya mau minta surat keterangan dari Lurah.” Setelah
saya jelaskan dengan tegas, mulailah dia membuat gerah. “Wah, ga bisa ini!
Harus ada surat pengantar RT!”
Sekembalinya saya esok harinya,
setelah bantuan pak RT 06 yang baik hatinya dalam membuatkan surat pengantar
dan menolak uang imbalan. Mau tak mau saya harus kembali ke kelurahan, menemui
si pak kumis yang buncit dengan segan. Dia hari ini tetap masuk kantor Negara sebagai
pegawai Negeri tanpa seragam ataupun formal berpeci.
“Maaf pak, saya yang kemarin
ingin minta surat keterangan dari Lurah. Ini surat pengantarnya dari RT.” Dia
pun mengambil surat saya dengan segan dan sinisnya tatapan. “Wah, ga bisa ini!
Harus ada cap RW!” Dilemparnya surat saya seolah surat itu bukan hasil tenaga
dan perjuangan seorang warga. “Tapi pak, kemarin kenapa tidak sekalian bilang?
Saya kan harus bolak-balik pulang?”
Tidak ada jawaban ataupun
senyuman, hanya tatapan dalam kemalasan. Kemalasan seorang pegawai yang hidup
segan mati pun tak mempan. Rasa kesal mulai memuncak, tapi saya pergi sambil
berdecak: “Gembel.” Malam itu RW 008 buka kantor mulai jam delapan, setelah 20
menit sebuah cap RW dalam genggaman.
Pagi sekali saya kembali ke
Kelurahan sambil memegang secarik kertas yang berharga bagi saya, namun tidak
bagi semua. Si buncit itu muncul kembali, ini hari Jumat dan kali ini ia hanya
memakai kaos dengan sandal pada kedua kaki. “Pak, ini surat lengkap dengan cap
RT & RW.” Kemudian diambilnya kertas saya dan dibuat surat keterangan dan
ia pun berkata, “Sana, cari pak Lurah untuk tandatangan, lekas bergegas!”
Saya bingung, kenapa saya yang
harus mencari pak Lurah? Bukankah itu tugas mereka dan memangnya saya tau mana
yang Lurah? Tapi demi birokrasi yang tak pernah mati, saya pergi mencari Lurah
yang mana saya tak tau pasti. Sebuah pintu kaca dengan papan nama: ‘Sekretaris
Lurah 8 pagi-3 sore’ ditempel dan saya coba masuk dan bertambah jengkel. Masih
terkunci, apa isinya sudah mati? Saya tak tau pasti.
Saya menunggu seorang diri diluar,
duduk dibangku yang sudah jelek dan nampak beberapa orang sibuk keluar-masuk memegang
lembaran kertas bertuliskan Caleg. Jam di tangan menunjukkan pukul sembilan
lewat dan keluarlah dari pintu yang terkunci tadi seorang perempuan dan saya
datang mendekat.
“Maaf bu saya mau minta
tandatangan pak Lurah.” Tanpa diduga dia menepis surat yang saya sodorkan
sambil berkata, “Coba minta sama yang lain, saya ndak tahu.” dan diapun berlalu.
Di bajunya terpampang tanda pengenal: Surwati, Sekretaris Lurah. Apa dia hanya
tidur didalam sana atau hanya malas bekerjasama? Benar-benar bertambah
kekecewaan saya pada tempat yang seharusnya membantu para warganya.
Beruntung tidak diduga, berkat
tidak kemana. Seorang wanita caleg memberitahu bahwa pak Lurah ada ada dibawah,
langsung saya menuruni tangga dengan bahagiah [red: suka maksa dah!]. Akhirnya
pak Lurah pun saya temui dan nampaknya dia sedang bergosip sambil merokok di
ruangan dengan seorang berbaju hijau yang nampak seperti hansip.
Tandatangan saya pun dapatkan
untuk surat yang tak seberapa nilainya, bagi saya. Setelah itu saya pun kembali
ke lantai atas dan menemui sang petugas kelurahan yang ingin saya potong-potong
dan sebar di lautan. “Pak sudah di tandatangani, sekarang kemana lagi?” Ia pun
mengeluarkan cap dan memberikan tanda sah bagi surat sang biang masalah.
“Sudah selesai nih dek, jangan
lupa kasih saya jasa lelahnya!” katanya sambil berbisik atau mendesah, entah.
Saya bingung dan ingat ada papan bertuliskan ‘Petugas pemerintah yang menerima/meminta
imbalan sama saja dengan korupsi!’ Namun agar tidak bertambah lama dan melihat
telapak tangannya yang masih terbuka kearah saya. Uang lembaran sepuluh ribuan
saya keluarkan tanpa kata-kata dan pergi meninggalkan tempat yang bukan untuk
rakyat jelata.
Bagian II: Salah Jalur, Sang
Petugas Yang Melacur
Selesai berurusan dengan pejabat
pemerintahan yang tidak tahu malu, saya melanjutkan hari yang hampir siang
dengan motor saya terus melaju. Kearah Matraman, lewat Pramuka bermaksud menuju
kawasan padat dan ramai di daerah Sudirman.
Melihat lajur kiri yang penuh dan
tidak beraturan, ah lebih baik mengambil yang kanan untuk masuk terowongan. Tiba-tiba
terlihat barisan pria berbaju cokelat dengan helm putih, ternyata petugas para
polisi sedang lapar dan siap menanti. “Prit!” seorang petugas yang berperut
buncit memberhentikan laju motorku dan terpaksa saya pinggirkan karena keadaan
sudah terjepit.
“Siang pak. Untuk motor harusnya
di lajur kiri, kanan hanya untuk roda empat. Mohon tunjukkan SIM & STNK.”
Tanpa basa basi langsung kukeluarkan SIM C berikut dengan STNK dengan sejuta
pikiran yang penuh duga. Sang polisi kembali melanjutkan, “Bapak urus saja di
Pengadilan atau mau damai disini?” Setengah terkejut dengan tawaran si
pengecut, tapi daripada lama lagi terima sajalah tawaran agar lanjut.
“Damai saja pak, saya hanya
kurir.” Entah ia bodoh, entah buta dibalik jaket baju berdasi rapi tertata. “Ya
sudah, kalau damai disini minimal Rp. 50,000.” Dalam pikirku, pasti aku
menggerutu dasar pemeras rakyat yang tak tahu malu! Kukeluarkan dompet dan
kuambil duapuluhribu, kusodorkan dengan tangan kananku.
“Hanya ada segini pak”, sambil
kutatap si polisi dengan rasa penuh benci. Dia pun menjawab, “Lain kali tidak
boleh dilanggar lagi yah!”, saya pun mengangguk tanda setuju walau di hati
masih ragu. Ketika saya melihat di pinggiran ternyata banyak motor lain yang
diberhentikan pertanda saya tidak sendirian.
Saya jadi teringat sebuah lagu
anak-anak yang pernah dicipta pada jaman dahulu kala:
Pagi-pagi ku kena tilang
Pak polisi berwajah garang
Duapuluh bayar sekarang
Saya apes, polisi senang!
Sedikit modifikasi di lagu bukan
masalah, sekedar menyampaikan informasi dan keluh kesah. Tapi sedikit faktor
ketidak-beruntungan dan lebih banyak lagi faktor pemerasan. Dalam tempo sekitar
tiga jam sudah keluar tigapuluhribu dengan cara yang kejam.
Sedih melihat negeriku ini, yang
kata orang makmur damai sejati. Dalam kenyataannya masih banyak kecurangan yang
dilakukan, hukum dibelokkan, hanya uang yang menjadi incaran. Ironisnya para
pejabat yang katanya bersumpah membela negara yang melakukan hitamnya perkara. Sudah
100 tahun Indonesiaku bangkit, namun lebih tepatnya mati secara nurani yang ada
hanya kenyataan pahit.
Recent Comments